Cara Menghadapi Masalah, Cara Menghadapi Masalah

Cara Menghadapi Masalah

Memaknai Suatu Masalah & Konflik

Berani hidup berarti berani menghadapi masalah. Masalah bisa datang dari dalam diri kita sendiri dan dari luar. Wujud masalah itu bisa berupa masalah kecil/remeh, bisa juga masalah besar. Masalah juga bisa sederhana bisa juga kompleks (rumit). Bila permasalahan yang ada telah sedemikian kompleks, maka akan membutuhkan banyak sumber daya, tenaga, pemikiran dan dana yang tidak sedikit untuk mencari solusi terbaik didalam mengatasi masalah itu. Terlebih lagi bila masalah telah meluas menjadi konflik dimana terjadi pertentangan antara satu sisi dengan sisi lainnya maka akan lebih menguras apapun yang kita miliki dan memaksa berpikir lebih keras lagi agar segera dapat teratasi.

Dari uraian diatas, ada beberapa hal pokok yang berkaitan dengan masalah, yakni bagaimana cara memaknai sebuah permasalahan, cara apa yang terbaik didalam menghadapi suatu masalah, bagaimana cara mengatasi masalah itu dan adakah metode terbaik didalam menyelesaikan masalah itu dengan baik dan berimbang.

Masalah adalah Sumber Penyebab Kedewasaan Manusia

Hidup itu adalah masalah. Berani hidup berarti berani menghadapi tantangan dari setiap bentuk dan laku permasalahan didalam kehidupan. Bagaimana tidak? Mari kita lihat sejenak, misalnya: pada saat ibu mengandung dan akan melahirkan maka timbullah masalah. Apa masalahnya? misalnya: kita tidak dapat membantu kelahiran sang calon bayi, uang tidak ada, puskesmas dan bidan jauh, listrik padam, sedang hujan deras, tidak ada kendaraan, hp atau saluran telpon tidak punya, bahkan (misalnya) kain hanya ada yang melekat dibadan. Ini baru proses akan lahirnya sang bayi ke dunia, belum nanti bila sang bayi mulai tumbuh, menjadi remaja dan dewasa. Seakan-akan tidak satupun bagian dari hidup ini yang tidak ada masalahnya.
Apakah anda menyesali telah lahir kedunia? Menyesali lahirnya kita didunia bukanlah cara mengakhiri masalah dalam kehidupan ini. Bila anda menyimak uraian yang akan dijelaskan secara rinci dan panjang lebar pada halaman ini, anda akan tahu, apa hikmahnya masalah itu bagi manusia, kita.

Masalah = Negatif?

Apakah masalah itu negatif? Disini, kami tegaskan bahwa masalah justru mengandung nilai positif bagi manusia. Kenapa? Masalah adalah sumber penyebab manusia berpikir. Dari berpikir sederhana berubah menjadi “belajar” berpikir secara kompleks dimana hampir setiap masalah terlahir secara kompleks (rumit) dikarenakan — terkadang — sering muncul diluar dugaan, tak pernah terpikir akan muncul tiba-tiba dan sangat bertentangan dengan keadaan kita.

Dengan berubahnya pola pikir dari sederhana menjadi kompleks, pola pikir lambat laun akan berubah seiring dengan tingkat kompleksitas masalah yang datang. Semakin kita mampu memecahkan dan mengatasi masalah itu, itu artinya, pola pikir berhasil berubah dengan baik. Disinilah kedewasaan mulai dapat diukur.
Dengan kata lain, semakin banyak masalah yang dihadapi dan dapat diselesaikan secara baik dan memuaskan, semakin dewasa cara kita menghadapi hidup dan ini jelas membawa dampak positif bagi kehidupan kita dan lebih dapat memaklumi semua yang terjadi yang pada akhirnya akan membawa kita pada kearifan dalam berpikir dan bertindak, lebih cenderung hati-hati dan bijaksana.
Bila manusia sudah mencapai tingkatan ini, kebahagiaan jiwa dan ketenangan bathin akan diperoleh secara otomatis.

#Efek Masalah bagi Tekhnologi

Masalah juga menjadi sumber munculnya tekhnologi yang hampir tidak pernah terlintas dalam pikiran manusia terdahulu. Tekhnologi canggih yang hadir saat ini adalah refleksi dari suatu masalah.
Contoh: bagaimana agar saya bisa menghubungi teman nun jauh disana yang membutuhkan ratusan kilometer agar pesanku tersampaikan.
Tidak tersampainya suatu pesan karena faktor jarak termasuk masalah. Manusia mencoba berusaha keras untuk mencari jalan (baca: solusi) tentang: bagaimana caranya agar pesanku dapat sampai pada temanku hanya dalam waktu beberapa detik?. Akhirnya terciptalah alat-alat canggih yang membantu manusia meneruskan corak kehidupannya. Itu artinya; masalah adalah sumber kecanggihan tekhnologi yang ada saat ini.

Banyak contoh yang setara dengan itu. Dengan kata lain, masalah adalah hal positif yang harus kita hadapi, kita terima dan kita temukan hal positif dibalik itu. Itu yang terpenting.

#Lalu, bagaimana dengan istilah “mencari-cari masalah”?

Hakikatnya, masalah itu tidak dapat dicari. Ia akan datang tepat waktu. Betapapun kita mencoba menghindarinya. Dapat dikatakan bahwa masalah itu sebenarnya ada di setiap jengkal pemikiran kita. Salah dalam cara berpikir dan memandang sesuatu juga adalah masalah. Adalah kewajiban kita untuk merubahnya dan membiasakannya agar menjadi bernilai dan berguna bagi kita dan lingkungan kita. Menciptakan suatu masalah bukan berarti mencari-cari masalah! seperti yang kami jelaskan diatas bahwa hakikatnya, masalah itu ada dan telah hadir setiap detik dan beragam bentuk dan jumlahnya. Hanya saja, kehadirannya dalam kehidupan kita terkadang muncul tiba-tiba dan seringkali tepat waktu.

Metode Mengelola Masalah

Bahwasanya, agar pola pikir kita semakin dewasa, diperlukan banyak masalah yang harus diselesaikan dengan baik dan berimbang. Sekali lagi, masalah itu haruslah dapat diselesaikan/diatasi dan berimbang. Untuk itu diperlukan metode didalam mengelola masalah yang akan dijelaskan berikut ini:

Tahapan Mengelola Masalah:

  1. Mengidentifikasi Masalah
  2. Mengklasifikasikan Masalah
  3. Menganalisa Masalah
  4. Menyimpulkan Masalah
  5. Memutuskan dan Mengambil Tindakan dalam Mengatasinya
  6. Mereferensikan Masalah

1. Identifikasi Masalah

Mengidentifikasi masalah berarti menemukan inti masalah. Inti masalah mengacu pada penyebab sumber masalah itu ada. Tanpa mengetahui penyebab munculnya masalah akan sulit dalam mengatasinya. Inti masalah mengandung sebab akibat. Proses identifikasi masalah terdiri atas level-level atau tingkatan yang disebut dengan tingkatan sumber masalah. Selanjutnya, sumber masalah itu kita bagi atas 2 bagian yakni:

  • Sumber Subyektif
    Sumber subyektif adalah sumber masalah yang berasal dari diri atau dalam diri kita sendiri.
    .
  • Sumber Obyektif
    Sumber obyektif berkaitan dengan sumber masalah yang berada diluar diri kita.

Contoh:
Masalah: Saya tidak mengerti apa yang tertulis di kertas itu.

Sumber Subyektif:
level-1: Saya tidak dapat membaca

Sumber Obyektif:
level-1: Tulisannya tidak terbaca dengan gaya penulisan seperti itu.
level-2: Tulisannya ditulis menggunakan bahasa yang saya tidak mengerti.
level-3: Tulisan itu menggunakan simbol-simbol khusus.

Jumlah tingkatan berdasar pada seberapa banyak faktor kemungkinan sumber masalah yang bisa ditemukan. Dengan cara ini, kita dapat mengelola berbagai masalah yang muncul secara lebih jelas dan tidak tumpang tindih. Semakin banyak level yang bisa teridentifikasi, itu artinya, masalah semakin kompleks.
Pemberian label level per sumber masalah diatas didasarkan pada tingkat penting tidak penting. Dengan kata lain, apakah “tulisannya tidak terbaca” termasuk hal terpenting dari semua kemungkinan masalah yang ada? jadi, level adalah wujud; penting, lebih penting dan paling penting.

2. Klasifikasi Masalah

Selanjutnya adalah mengklasifikasikan masalah. Klasifikasi berarti mengelompokkan masalah sesuai dengan sifat dan karakter level-nya.

Contoh:
Sumber subyektif:
Nihil

Sumber obyektif:
level-1 digabungkan dengan level-3
level-2: nihil, karena ditulis tidak dalam bahasa asing.

Alasan penggabungan/pengelompokkan level-1 dan level-3 adalah, ada kemungkinan tulisan itu ditulis bercampur dengan simbol-simbol tertentu.

3. Analisa Masalah

Proses berikutnya adalah menganalisa masalah. Proses analisa ini ditujukan pada tiap sumber masalah yang aktif. Sumber masalah aktif maksudnya yang tidak bernilai Nihil. Tujuan analisa adalah meneliti seberapa jauh tingkat masalah yang ditemukan dan memprediksi kemungkinan memecahkan masalah itu.

Contoh:
Sumber masalah yang aktif adalah: Sumber obyektif, yakni:
level-1: Tulisannya tidak terbaca dengan gaya penulisan seperti itu
level-3: Tulisan itu menggunakan simbol-simbol khusus.

Hasil analisa:
Setelah diteliti dan membandingkan tulisan itu dengan tulisan yang paling mirip dengannya, ditemukan (dengan yakin) bahwa, tulisan itu tidaklah menggunakan simbol-simbol khusus. Dengan demikian, level-3 akhirnya bernilai nihil dan tidak aktif.

Hasil akhir — pasca Analisa Masalah:
Sumber Obyektif Aktif:
Level-1: Tulisannya tidak terbaca dengan gaya penulisan seperti itu.

4. Kesimpulan Masalah

Setelah melihat hasil akhir dari proses analisa masalah, dapat disimpulkan bahwa permasalahan sebenarnya adalah: Tulisannya tidak terbaca karena ditulis dengan gaya penulisan seperti itu. Dengan demikian, dapat dicari solusi untuk mengatasi masalah tersebut dengan cara mengambil beberapa kemungkinan solusinya.

Contoh:
Alternatif-1: Mencari orang yang paham dengan tulis-menulis
Alternatif-2: Menggunakan alat pendeteksi tulisan bila ada.
Alternatif-3: Mencoba menerka-nerka berdasarkan hubungan antar kata dari tulisan tersebut

Dalam hal ini kita menemukan 3 kemungkinan alternatif solusi yang paling mungkin untuk menyelesaikan masalah ini.

5. Keputusan dan Tindakan atas Masalah

Setelah disimpulkan dengan yakin serta menemukan berbagai kemungkinan alternatif solusinya, selanjutnya adalah membuat keputusan mengenai: Alternatif mana yang paling memungkinkan untuk mengatasinya.
Untuk menentukkannya didasarkan pada tingkat efiesiensi dan efektifitas, yakni:

  • Biaya yang dibutuhkan
  • Waktu (lamanya proses pemecahan masalah)
  • Tenaga

Sebelum memutuskan dengan yakin penting untuk mempertimbangkan: apakah alternatif yang diambil itu akan menimbulkan masalah baru dikemudian hari?
Bila telah yakin dengan berbagai pertimbangan yang ada, saatnya mengambil tindakan.

Misalnya:
Alternatif-3: Mencoba menerka-nerka apa yang tertulis.

Bila tidak berhasil lanjutkan ke alternatif lain.
Contoh:
Alternatif-2: Nihil.
Alternatif-1: Mencari orang yang paham dengan tulis-menulis.

—————

Menyimak uraian diatas, adalah penting memiliki metode didalam mengelola masalah. Contoh diatas memang terasa sederhana dibandingkan dengan masalah yang ada atau yang kita alami saat ini.

Satu hal terpenting didalam mengelola masalah yakni:
Bagaimana kita memposisikan diri kita pada masalah tersebut?

Berpikir dan bertindak subyektif dalam suatu masalah akan menyebabkan masalah tidak akan teratasi.
Contoh:

Penyebab keretakan rumah tangga si A dikarenakan A tidak mau didikte walau sebenarnya si A lah yang sumber masalah dan bukan si B. Disini, hendaklah si A harus berlapang dada dan mau menerima semua resiko apapun yang ditimbulkan oleh kesubyektifan atas dirinya sendiri. Bila tidak, masalah tidak akan pernah bisa dipecahkan dan kerusakanlah yang akan terjadi.

Semoga bermanfaat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IBX583F683C10585